KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah
kami panjatkan kepada ALLAH SWT karena atas ridho dan izin Nya kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ASKEB III ”deteksi dini komplikasi masa nifas” ini dengan lancar tanpa aral serta rintangan yang berarti.
Kami
dalam menyelesaikan tugas makalah ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu pada
kesempatan ini saya ingin mengahaturkan ucapan terimakasih pada semua pihak
yang turut membantu, khususnya kepada orang-orang yang telah memberikan
informasi terkait dengan bahan-bahan pembuatan makalah ini.
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan
kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan makalah
ini. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Banjarbaru,
11 November 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
halaman
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
LATAR BELAKANG
RUMUSAN MASALAH
TUJUAN PENULISAN
BAB II
2.1
Perdarahan pervaginam
2.2
Infeksi masa nifas
2.3
Penglihatan kabur
2.4
Sakit kepala, nyeri epigastrik
2.5
Pembengkakan di wajah dan ektremitas
BAB
III
3.1
KESIMPULAN
3.2
SARAN
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Masa
nifas merupakan masa yang diawali sejak beberapa jam setelah plasenta lahir dan
berakhir setelah 6 minggu setelah melahirkan. Akan tetapi, seluruh organ
kandungan baru pulih kembali seperti sebelum hamil, dalam waktu 3 bulan setelah
bersalin. Masa nifas tidak kalah penting dengan masa-masa ketika hamil, karena
pada saat ini organ-organ reproduksi sedang mengalami proses pemulihan setelah
terjadinya proses kehamilan dan persalinan.
Masa
nifas dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pasca nifas, masa nifas dini dan
masa nifas lanjut, yang masing-masing memiliki ciri khas tertentu. Pasca nifas
adalah masa setelah persalinan sampai 24 jam sesudahnya (0-24 jam sesudah
melahirkan). Masa nifas dini adalah masa permulaan nifas, yaitu 1 hari sesudah
melahirkan sampai 7 hari lamanya (1 minggu pertama). Masa nifas lanjut adalah 1
minggu sesudah melahirkan sampai dengan 6 minggu setelah melahirkan.
Perawatan
masa nifas adalah perawatan terhadap ibu yang baru melahirkan sampai alat-alat
kandungan kembali seperti sebelum hamil. Fungsi perawatan masa nifas yakni
memberikan fasilitas agar proses penyembuhan fisik dan psikis berlangsung
dengan normal, mengamati proses kembalinya rahim ke ukuran normal, membantu ibu
untuk dapat memberikan ASI dan memberi petunjuk kepada ibu dalam merawat
bayinya. Perawatan masa nifas sebenarnya dimulai sejak plasenta lahir, dengan
menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan setelah melahirkan dan
infeksi. Bila ada luka robek pada jalan lahir atau luka bekas guntingan
episiotomi, dilakukan penjahitan dan perawatan luka dengan sebaik-baiknya.
Penolong persalinan harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1 jam sesudah
melahirkan, khususnya untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan.
Sesudah
bersalin, suhu badan ibu dapat naik 0,5 derajat C, tapi tidak melebihi 38
derajat C. Sesudah 12 jam pertama, suhu badan akan kembali normal. Bila suhu
melebihi dari 38 derajat C, kemungkinan telah terjadi infeksi. Rasa mulas di
perut setelah melahirkan timbul akibat kontraksi rahim dan biasanya lebih
terasa saat menyusui. Keluhan ini dapat dialami selama 2-3 hari sesudah
bersalin. Rasa mulas ini juga dapat timbul jika masih terdapat sisa selaput
ketuban, plasenta atau bekuan darah di dalam rongga rahim. Bila mulas tersebut
sangat mengganggu, dapat diberikan obat antinyeri dan penenang, supaya ibu
dapat beristirahat dan tidur.
Setelah
melahirkan, ibu harus segera buang air kecil sendiri. Kadang-kadang timbul
keluhan kesulitan berkemih yang disebabkan pada saat persalinan otot-otot
kandung kemih mengalami tekanan oleh kepala janin, disertai pembengkakan
kandung kemih. Bila kandung kemih terisi penuh sedangkan si ibu tidak dapat
buang air kecil, sebaiknya dilakukan pemasangan kateter (selang kencing), untuk
mengistirahatkan sementara otot-otot tersebut, yang berikutnya diikuti dengan
latihan berkemih. Ketidakmampuan berkemih dapat menyebabkan terjadinya infeksi,
sehingga harus diberikan antibiotika. Dalam 3-4 hari setelah bersalin, ibu
harus sudah buang air besar. Bila ada sembelit dan tinja mengeras, dapat
diberikan obat pencahar atau dilakukan klisma (pembersihan usus). Demam dapat
muncul jika tinja tertimbun lama di usus besar.
1.2
Rumusan Masalah
Bagaimana cara mendeteksi secara dini komplikasi
pada masa nifas dan cara penanganannya.
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui perdarahan
pervaginam pada post partum.
2.
Untuk mengetahui infeksi masa
nifas.
3.
Untuk mengetahui penglihatan
kabur pada masa nifas.
4.
Untuk mengetahui sakit kepala,
nyeri epigastrik pada post partum.
5.
Untuk mengetahui pembengkakan
di wajah dan ektremitas pada post partum.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perdarahan pervagina
Perdarahan pervagina
atau perdarahan postpartum atau post partum hemorargi atau hemorargi post
partum atau PPH adalah kehilangan darah sebanyak 500 cc atau lebih dari traktus
genetalia setelah melahirkan. Hemorargi post partum
primer adalah mencakup semua kejadian perdarahan dalam 24 jam setelah
kelahiran.
Penyebab:
a.
Uterus atonik (terjadi karena misalnya: plasenta
atau selaput ketuban tertahan).
b.
Trauma genetalia (meliputi penyebab spontan dan
trauma akibat pelaksanaan atau gangguan, misalnya kelahiran yang menggunakan
peralatan termasuk sectio caesaria, episiotomi).
c.
Koagulasi intravascular disetaminata.
d.
Inversi uterus.
Hemorargi post partum
sekunder adalah mencakup semua kejadian PPH yang terjadi antara 24 jam setelah
kelahiran bayi dan 6 minggu masa post partum.
Penyebab:
1.
Fragmen plasenta atau selaput ketuban tertahan.
2.
Pelepasan jaringan mati setelah persalinan macet
(dapat terjadi di serviks, vagina kandung kemih, rectum).
3.
Terbukanya luka pada uterus (setelah sectio
caesaria, ruptur uterus).
2.2 Infeksi masa nifas.
Infeksi masa nifas atau
sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genetalia yang terjadi pada
setiap saat antara awitan pecahan ketuban atau persalinan dan 42 hari setelah
persalinan atau abortus dimana terdapat dua atau lebih dari hal-hal berikut
ini:
a.
Nyeri pelvik.
b.
Demam 38,5 0C atau lebih.
c.
Rabas vagina yang abnormal.
d.
Rabas vagina yang berbau busuk.
e.
Keterlambatan dalam penurunan uterus.
·
Bakteri penyebab
sepsis puerpuralis:
1.
Streptokoccus.
2.
Stafilokoccus.
3.
E. Coli.
4.
Clostridium tetani.
5.
Clostridium welchi.
6.
Clamidia dan gonocokkus.
·
Bakteri endogen.
Bakteri ini secara normal hidup di vagina dan rectum tanpa
menimbulkan bahaya. Bahkan jika tekhnik steril di gunakan dalam persalinan,
infeksi ini masih dapat terjadi akibat bakteri endogen. Bakteri endogen dapat
membahayakan dan menyebabkan infeksi jika:
a.
Bakteri ini masuk kedalam uterus melalui jari
pemeriksa atau melalui instrumen pemeriksaan pelvik.
b.
Bakteri terdapat dalam jaringan yang memar,
robek/ laserasi atau jaringan mati.
c.
Bakteri masuk sampai kedalam uterus jika terjadi
pecah ketuban yang lama.
·
Bakteri eksogen.
Bakteri ini masuk kedalam vagina dari
luar yaitu:
a.
Malalui tangan dan alat yang tidak steril.
b.
Melaluui substansi.
c.
Malalui aktivitas seksual.
·
Tanda dan gejala
sepsis puerpuralis.
a.
Demam.
b.
Nyeri pelviks.
c.
Nyeri tekan di uterus.
d.
Lokia berbau menyengat.
e.
Terjadi keterlambatan dalam penurunan uterus.
f.
Pada laserasi terasa nyeri., bengkak dan
mengeluarkan darah.
·
Faktor terjadi sepsis
puerpuralis.
a. Anemia/kurang gizi.
b. Higieneyang buruk.
c. Tekhnik asptik yang
buruk.
d. Manipulasi yang sangat
banyak pada jalan lahir.
e. Adanya jaringan mati
pada jalan lahir.
f. Inersi tangan, instrumen
atau pembalutyang tidak steril.
g. Ketuban pecah lama.
h. Pemeriksaan vagina yang
sering.
i.
Kielahiran melalui SC.
j.
Laserasi vagina/serviks yang tidak di perbaiki.
k. PMS yang di derita.
l.
Hemorragi post partum.
m. Tidak imunisasi tetanus.
n. Diabetes mellitus.
2.3 Sakit
Kepela, Nyeri Epigastrik
A. Sakit
kepala
Nyeri
kepala pada masa nifas dapat merupakan gejala preeklampsia, jika tidak diatasi
dapat menyebabkan kejang maternal, stroke, koagulopati dan kematian. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius a dalah:
1.
Sakit kepala hebat.
2.
Sakit kepala yang menetap .
3.
Tidak hilang dengan istirahat.
4.
Depresi post partum .
Kadang
- kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa
penglihatannya menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat disebabkan
karena terjadinya edema pada otak dan meningkatnya resistensi otak yang
mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral
(nyeri kepala, kejang) dan gangguan penglihatan.
·
Gejala :
a.
Tekanan darah naik atau turun.
b.
Lemah.
c.
Anemia.
d.
Napas pendek atau cepat.
e.
Nafsu makan turun.
f.
Kemampuan berkonsentrasi kurang
g.
Tujuan dan minat terdahulu hilang; merasa
kosong.
h.
Kesepian yang tidak dapat digambarkan; merasa
bahwa tidak seorang pun mengerti.
i.
Serangan cemas.
j.
Merasa takut.
k.
Berpikir obsesif.
l.
Hilangnya rasa takut.
m.
Control terhadap emosi hilang.
n.
Berpikir tentang kematian.
·
Penanganan:
a.
Informed consent.
b.
Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan
umum sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau
keluarga.
c.
Pemberian
Parasetamol dan Vit B Complek 2x/hari, Tablet zat besi 1x/hari.
d.
Jika tekanan diastol >110mmHg, berikan
antihipertensi sampai tekanan diastolik.
e.
Pasang infus RL dengan jarum besar no.16 atau
lebih.
f.
Ukur keseimbangan cairan.
g.
Persiapan rujukan.
h.
Periksa Hb.
i.
Periksa protein urine.
j.
Observasi tanda-tanda vital.
k.
Lebih banyak istirahat.
B. Nyeri
epigastrium
Nyeri daerah epigastrium atau daerah
kuadran atas kanan perut, dapat disertai dengan edema paru. Keluhan ini
sering menimbulkan rasa khawatir pada penderita akan adanya gangguan pada organ
vital di dalam dada seperti jantung, paru dan lain-lain.
Preeklamsia ialah penyakit dengan
tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan,
umumnya terjadi pada triwulan ke-3 kehamilan. Sedangkan eklampsia merupakan
penyakit lanjutan preeklamsia, yakni gejala di atas ditambah tanda gangguan
saraf pusat, yakni terjadinya kejang hingga koma, nyeri frontal, gangguan
penglihatan, mual hebat, nyeri epigastrium, dan hiperrefleksia.
Hipertensi biasanya timbul lebih
dahulu daripada tanda-tanda lain karena
terjadi reimplantasi amnion ke dinding rahim pada trimester ke-3 kehamilan.
Pada keadaan ibu yang tidak sehat atau asupan nutrisi yang kurang, reimplantasi
tidak terjadi secara optimal sehingga menyebabkan blokade pembuluh darah setempat
dan menimbulkan hipertensi. Diagnosis hipertensi dapat dibuat jika kenaikan
tekanan sistolik 30 mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya ditemukan
atau mencapai 140 mmHg atau lebih, dan tekanan diastolik naik dengan 15 mmHg
atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Penentuan tekanan darah ini
dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Edema
ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh, dan
biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki,
jari tangan, dan muka. Kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali perlu menimbulkan
kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. Edema juga terjadi karena
proteinuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0,3 g/liter
dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan 1+ atau
2+ atau 1g/liter atau lebih dalam air
kencing yang dikeluarkan dengan kateter atau midstream yang diambil minimal 2
kali dengan jarak waktu 6 jam. Biasanya proteinuria timbul lebih lambat
daripada hipertensi dan kenaikan berat badan, karena itu harus dianggap sebagai
tanda yang cukup serius.
1. Tanda dan Gejala:
a. Kira-kira
90 persen pasien terdapat lelah.
b. 65
% dengan nyeri epigastrium, 30 persen dengan mual dan muntah.
c. 31
% dengan sakit kepala.
2. Penanganan
:
a.
Informed consent
b.
Mengobservasi TTV
c.
Persiapan rujukan
d.
Pemeriksaan darah rutin
e.
Tes fungsi hati.
f.
Profilaktik MgSO4 untuk mencegah kejang
(eklampsia).
g.
Bolus 4 – 6 g MgSO4 dalam konsentrasi 20%.
Dosis ini diikuti dengan infus 2 g per jam.
h.
Jika terjadi toksisitas, masukkan 10 – 20 ml
kalsium glukonat 10% i.v.
i.
Terapi antihipertensi harus dimulai jika
tekanan darah senantiasa di atas 160/110 mmHg → Hidralazin IV dosis rendah 2,5
– 5 mg (dosis inisial 5mg) setiap 15 – 20 menit sampai tekanan darah target
tercapai atau kombinasi nifedipin dan MgSO4.
2.4 Penglihatan
Kabur
Perubahan penglihatan atau
pandangan kabur, dapat menjadi tanda preeklampsi. Masalah
visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan
visual mendadak, misalnya penglihatan
kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot) , berkunang-kunang.
Selain
itu adanya skotoma, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang
menunjukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini
disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks
cerebri atau didalam retina (edema retina dan spasme pembuluh darah). Perubahan
penglihatan ini mungkin juga disertai dengan sakit kepala yang hebat.
Pada
preeklamsia tampak edema retina, spasmus setempat atau menyeluruh pada satu
atau beberapa arteri. Skotoma, diplopia, dan ambliopia pada penderita
preeklamsia merupakan gejala yang menunjukkan akan terjadinya eklampsia.
Keadaan ini disebabkan oleh perubahan aliran darah dalam pusat penglihatan di
korteks serebri atau dalam retina. Perubahan pada metabolisme air dan
elektrolit menyebabkan terjadinya pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke
ruang interstisial. Kejadian ini akan diikuti dengan kenaikan hematokrit,
peningkatan protein serum dan sering bertambahnya edema, menyebabkan volume
darah berkurang, viskositas darah meningkat, waktu peredaran darah tepi lebih
lama. Karena itu, aliran darah ke jaringan di berbagai bagian tubuh berkurang,
dengan akibat hipoksia. Elektrolit, kristaloid, dan protein dalam serum tidak
menunjukkan perubahan yang nyata pada preeklamsia. Konsentrasi kalium, natrium,
kalsium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas-batas normal. Gula darah,
bikarbonat dan pH pun normal. Kadar kreatinin dan ureum pada preeklamsia tidak
meningkat, kecuali bila terjadi oliguria atau anuria. Protein serum total,
perbandingan albumin globulin dan tekanan osmotic plasma menurun pada
preeklamsia. Pada kehamilan cukup bulan kadar fibrinogen meningkat dengan nyata
dan kadar tersebut lebih meningkat lagi pada preeklamsia.
1.
Tanda dan Gejala :
a.
Peningkatan tekanan darah yang cepat
b.
Oliguria
c.
Peningkatan jumlah proteinuri
d.
Sakit kepala hebat dan persisten
e.
Rasa mengantuk
f.
Penglihatan kabur
g.
Mual muntah
h.
Nyeri epigastrium
i.
Hiperfleksi
2.
Faktor resiko:
a.
Primigravida
b.
Wanita gemuk
c.
Wanita dengan hipertensi esensial
d.
Wanita dengan kehamilan kembar
e.
Wanita dengan diabetes, mola hidatidosa,
polihidramnion
f.
Wanita dengan riwayat eklamsia atau
preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
g.
Riwayat keluarga eklamsi
3.
Peran Bidan :
a.
Mendeteksi terjadinya eklamsi
b.
Mencegah terjadinya eklamsi
c.
Mengetahui kapan waktu berkolaborasi dengan
dokter
d.
Memberikan penanganan awal sebelum merujuk
pada kasus eklamsi
4.
Penanganan :
a.
Informed consent
b.
Segera rawat
c.
Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan
umum sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau
keluarganya
d.
Persiapan rujukan
e.
Jika
pasien tidak bernafas :
·
Bebaskan jalan nafas
·
Berikan oksigen
·
Intubasi jika perlu
f.
Jika pasien tidak sadar atau koma :
·
Bebaskan jalan nafas
·
Baringkan pada satu sisi
·
Ukur suhu
·
Jika pasien syok atasi dengan penanganan syok
·
Jika ada perdarahan atasi penanganan
perdarahan
g.
Jika kejang :
·
Baringkan pada satu sisi, tempat tidur arah
kepala ditinggikan sedikit untuk mengurangi kemungkinan aspirasi secret,
muntah/darah.
·
Bebaskan jalan nafas
·
Pasang spatula lidah untuk menghindari
tergigitnya lidah
Pembengkakan wajah dan
ektremitas atau yang sering disebut dengan udem sering ditemukan pada wanita
hamil ataupun nifas. Baik karena perubahan fisiologis maupun perubahan yang
patologis. Udem adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan , akibat adanya
gannguan keseimbangan. Udem dapat terjadi oleh :
1. Adanya
tekanan hidrostatik yang sangat tinggi pada pembuluh kapiler seperti misalnya
bila aliran darah vena tersumbat
2.
Tekanan osmotik terlalu rendah, karena kadar protein plasma, terutama albumin
sangat rendah
3.
Sumbatan pada aliran limfe
4.
Kerusakan dinding kapiler sehingga plasma dapat merembes keluar dan masuk ke
dalam jaringan serta menimbulkan tekanan osmotik yang melawan tekanan osmotik
protein dalam aliran darah
Udem juga terlihat pada
adanya trombosis pada vena – vena betis yang terletak dalam, biasanya merupakan
komplikasi berbahaya akibat berbaring yang terlalu lama, yang menyebabkan
aliran dalam darah vena menjadi lambat sehinga membeku. Trombosis seperti ini
terjadi akibat infeksi. Keadaan pembengkakan wajah dan ekstremitas, sering
menyertai kelainan – kelainan pada masa nifas, sebagai berikut
1. Preeklampsi
2.
Syndrom Nefrotik
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Mendeteksi
dini komplikasi masa nifas yaitu :
a.
Perdarahan
pervaginam
b.
Infeksi masa nifas
c.
Penglihatan kabur
d.
sakit kepala, nyeri epigastrik
e.
pembengkakan di wajah dan
ektremitas
post partum atau PPH adalah kehilangan darah sebanyak 500 cc atau
lebih dari traktus genetalia setelah melahirkan. Hemorargi post partum
primer adalah mencakup semua kejadian perdarahan dalam 24 jam setelah
kelahiran.
Infeksi masa nifas atau sepsis puerperalis adalah infeksi pada
traktus genetalia yang terjadi pada setiap saat antara awitan pecahan ketuban
atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus dimana terdapat dua
atau lebih.
3.2
Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini bisa
menambah pengetahuan kita mengenai deteksi dini komplikasi masa nifas. Makalah kami ini masih banyak kekurangan,
diharapkan kritik dan saran agar dipembuatan makalah selanjutnya dapat lebih
baik.