BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Model
pembelajaran memiliki andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar.
Kemampuan menangkap pelajaran oleh siswa dapat dipengaruhi dari pemilihan model
pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan
tercapai. Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat dijadikan
alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas
berlangsung efektif dan optimal.Salah satunya yaitu dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif.
Wagitan (2006)
menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat menjadi salah satu
alternatif karena banyak pendapat yang menyatakan bahwa
pembelajaran aktif termasuk kooperatif mampumeningkatkan
efektivitas pembelajaran.Pembelajaran kooperatif mengutamakan
kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.Menggunakan
pembelajaran kooperatif dapat mengubah peran guru, dari yang berpusat pada
gurunya ke pengelolaan siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Model pembelajaran
kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang kompleks, dan yang
lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
berdimensi sosial dan hubungan antar manusia.
Pembelajaran
kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan
kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya.Hal ini
dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk aktif
dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.
Dengan latar belakang diatas maka kami tertarik untuk mebuat sebuah makalah
yang berjudul “Model Pembelajaran Kooperatif”.
B. Rumusan Masalah
1. BagaimanaPengertian Pembelajaran Kooperatif ?
2. Apa saja yang menjadi unsur-unsur dan karakteristik Pembelajaran Kooperatif ?
3. Bagaimana Tipe-Tipe dari Pembelajaran Kooperatif ?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari
Pembelajaran Kooperatif ?
C. Tujuan Penulisan
1.
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui Bagaimana Model Pembelajaran Kooperatif.
2.
Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui
bagaimana pengertian Pembelajaran Kooperatif.
b.
Untuk mengetahui apa saja yang
menjadi unsur-unsur dan karakteristik Pembelajaran Kooperatif.
c.
Untuk mengetahui bagaimana tipe-tipe dari Pembelajaran Kooperatif.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Slavin
(1994) menyatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif adalah suatu
model pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil
untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran”.
Johnson
& Johnson (1987) dalam Isjoni (2009:17) menyatakan bahwa “pengertian model
pembelajaran kooperatif yaitu mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam
suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal
yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut”.
Menurut
Rustaman (2003:206) “Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang
dikembangkan dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif
untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional”.
Lie
(2008:12) menyatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif merupakan sistem
pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan
sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur”.
Isjoni
(2009:15) menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan terjemahan
dari istilah cooperative learning.Cooperative learning berasal
dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara
bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok
atau satu tim”.
Hasan
(1996) menyimpulkan bahwa kooperatif
mengandung pengertian bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam
kegiatan kooperatif, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan
bagi seluruh anggota kelompoknya.
Sugandi
(2002:14) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar
kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur
dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya
interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif
diantara anggota kelompok”.
Dari
beberapa definisi diatas dapat diperoleh bahwa pembelajaran kooperatif
merupakan salah satu pembelajaran
efektif dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja
sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar
dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai
bahan pelajaran.Falsafah yang mendasari pembelajaran cooperative learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan
adalah homo homini socius yang
menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran
langsung.Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan
untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga
efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
B. Unsur-Unsur dan Karakteristik Pembelajaran
Kooperatif
1. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
a.
Saling Ketergantungan Positif
Saling
ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan
sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang
optimal.Tiap siswa tergantung pada anggota lainnya karena tiap siswa mendapat
materi yang berbeda atau tugas yang berbeda, oleh karena itu siswa satu dengan
lainnya saling membutuhkan karena jika ada siswa yang tidak dapat mengerjakan
tugas tersebut maka tugas kelompoknya tidak dapat diselesaikan.
b.
Tanggung Jawab Perseorangan
Pembelajaran kooperatif juga ditujukan untuk
mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual.Hasil
penilaian individual tersebut selanjutnya disampaikan guru kepada kelompok agar
semua kelompok dapat mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa
anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan.Karena tiap siswa mendapat tugas
yang berbeda secara otomatis siswa tersebut harus mempunyai tanggung jawab
untuk mengerjakan tugas tersebut karena tugas setiap anggota kelompok mempunyai
tugas yang berbeda sesuai dengan kemampuannya yang dimiliki setiap
individu.
c.
Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa
dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melalukan
dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi
semacam ini memungkinkan siswa dapat sa- ling menjadi sumber belajar sehingga sumber
belajar lebih bervariasi dan ini juga akan lebih memudahkan siswa dalam
belajar.Adanya tatap muka, maka siswa yang kurang memiliki kemampuan harus dibantu oleh siswa yang lebih
mampu me- ngerjakan tugas individu dalam kelompok
tersebut, agar tugas kelompoknya dapat terselesaikan.
d.
Komunikasi antarAnggota Kelompok
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan
sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan
bukan mengkritik teman, berani mempertahan pikiran logis, tidak mendominasi
orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin
hubungan antar pribadise- ngaja diajarkan dalam pembelajaran kooperatif ini.
Unsur ini juga menghendaki agar para siswa
dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi.Sebelum menugaskan siswa
dalam kelompok, guru perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi, karena tidak
semua siswa mempuanyai keahlian mendengarkan dan berbicara.Keberhasilan suatu
kelompok tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk sa- ling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk
mengutarakan pendapat mereka. Adakalanya siswa perlu diberitahu secara jelas mengenai cara menyanggah pendapat orang lain
tanpa harus menyinggung perasaan orang lain.
e.
Evaluasi Proses Kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi
kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka
agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini
tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan
selang beberapa waktu setelah beberapa pembelajar terlibat dalam kegiatan
pembelajaran cooperative learning.
2.
Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
a.
Dalam kelompoknya, siswa haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan”.
b.
Siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lainnya dalam kelompok, di samping tanggung jawab terhadap diri mereka
sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c.
Siswa haruslah berpandangan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki
tujuan yang sama.
d.
Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota
kelompoknya.
e.
Siswa akan diberikan evaluasi atau penghargaan yang akan berpengaruh terhadap
evaluasi seluruh anggota kelompok.
f.
Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama
selama proses belajarnya.
g.
Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang
ditangani di dalam kelompoknya.
C. Tipe-Tipe dari Pembelajaran Kooperatif
Berikut ini adalah beberapa tipe dari model pembelajaran kooperatif.
1. Tipe STAD (Student Team Achievement Division)
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team
Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan
teman-temannya di Universitas John Hopkinmerupakan pembelajaran kooperatif yang
paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan
oleh guru yang baru menggunakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran
kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut:
a.
Presentasi kelas.Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan
menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama
sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya.
b.
Kerja kelompok. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan kelompok
ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan
jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan
sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.
c.
Tes. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa
diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan
saling membantu.
d.
Peningkatan skor individu. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai
skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap
peningkatan skor rata-rata kelompok.
e.
Penghargaan kolompok. Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi,
diberikan penghargaan.
2. Tipe Think-Pair-Share
Think-Pair-Share merupakan salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland pada
tahun 1985.Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa waktu untuk
berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh,
seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah
selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya guru meminta kepada para siswa untuk
menyadari secara serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa
yang telah dibaca. Tahapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah
sebagai berikut.
a.
Berpikir (Think): Guru
mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi
waktu untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri.
b.
Berpasangan (Pair): Guru meminta para siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan
mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat
menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau
penyampaian ide bersama jika suatu isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya
guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
c.
Berbagi (Share): Pada langkah
akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau
bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka
bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas
dari pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau setengah dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh
kesempatan untuk melapor.
3. Tipe Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan
diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas, dan kemudian
diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins.Arends(1997) dalam bukunya menyimpulkan dengan
kutipan sebagai berikut.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah
suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam
satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan
mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.Model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif
dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara
heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung
jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan
menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok.
4. Tipe NHT (Numbered Heads Together)
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together (Kepala
bernomor) dikembangkan Spencer Kagan. Teknik ini memberi kesempatan kepada
siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangan jawaban yang paling
tepat. Selain itu teknik ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja
sama mereka.Maksud dari kepala bernomor yaitu setiap anak mendapatkan nomor
tertentu, dan setiap nomor mendapatkaan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan
mereka dalam menguasai materi.
Dengan menggunakan model ini, siswa tidak
hanya sekedar paham konsep yang diberikan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk
bersosialisasi dengan teman-temannya, belajar mengemukakan pendapat dan
menghargai pendapat teman, rasa kepedulian pada teman satu kelompok agar dapat
menguasai konsep tersebut, siswa dapat saling berbagi ilmu dan informasi,
suasana kelas yang rileks dan menyenangkan serta tidak terdapatnya siswa yang
mendominasi dalam kegiatan pembelajaran karena semua siswa memiliki peluang
yang sama untuk tampil menjawab pertanyaan.Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together antara
lain:
a.
Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat
nomor.
b.
Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok me- ngerjakannya.
c.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota
kelompok dapat mengerjakannya/menge-tahui jawabannya.
d.
Guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil
melaporkan hasil kerjasama mereka.
e.
Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
5. Tipe GI (Group
Investigation)
Pembelajaran kooperatif tipe GI didasari oleh
gagasan John Dewey
tentang pendidikan yang menyimpulkan bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan
berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan di dunia nyata
yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi.Pada dasarnya
model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah,
mengeksplorasi berbagai hal mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan
menguji hipotesis.Tahapan-tahapan dalam menerapkan
pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut:
a.
Tahap
Pengelompokan (Grouping)
Yaitu
tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta mebentuk kelompok
investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini, yang pertama siswa mengamati sumber, memilih topik, dan
menentukan kategori-kategori topik permasalahan kemudian siswa bergabung pada kelompok-kelompok
belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, lalu guru membatasi jumlah anggota masing-masing
kelompok antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.
b.
Tahap
Perencanaan (Planning)
Tahap
Planning atau tahap perencanaan tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap
ini siswa bersama-sama merencanakan tentang: Apa yang mereka pelajari?
Bagaimana mereka belajar? Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik
tersebut?
c.
Tahap
Penyelidikan (Investigation)
Tahap
Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada
tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut: pertama siswa mengumpulkan informasi, menganalisis
data dan membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang
diselidiki, kemudian
masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan
kelompok, lalu siswa
saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan
pendapat.
d.
Tahap
Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu
tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut: pertama anggota kelompok menentukan pesan-pesan
penting dalam proteknya masing-masing, kemudian anggota kelompok
merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, lalu wakil dari masing-masing kelompok membentuk
panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi.
e.
Tahap
Presentasi (Presenting)
Tahap
presenting yaitu tahap penyajian
laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai
berikut: pertama,
penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk
penyajian, kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif
sebagai pendengar, kemudian pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau
tanggapan terhadap topik yang disajikan.
f.
Tahap
Evaluasi (Evaluating)
Pada
tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa.
Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut: pertama siswa menggabungkan masukan-masukan tentang
topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang
pengalaman-pengalaman efektifnya, kemudian guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang
pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.
6. Tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And
Composition)
Pembelajaran CIRC dikembangkan oleh Stevans,
Madden, Slavin dan Farnish.Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa
dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang
mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya
menjadibagian-bagian yang penting.
Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok
kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini
terdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa
sebaiknya merasa cocok satu sama lain.Dalam kelompok ini tidak dibedakan jenis
kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa.Dengan pembelajaran
kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan
menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan
bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar
yang baik, siswa juga dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi,
mendorong teman lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain, dan
sebagainya. Model pembelajaran ini, dibagi menjadi
beberapa fase:
a.
Fase Orientasi
Pada
fase ini, guru memberikan pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan diberikan. Selain itu guru juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan
dilakukan kepada siswa.
b.
Fase Organisasi
Guru
membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan
akademik. Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada
siswa. Selain itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus
diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung.
c.
Fase Pengenalan Konsep
Dengan
cara mengenalkan tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan
selama eksplorasi. Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku
paket, film, kli- ping, poster atau media lainnya.
d.
Fase Publikasi
Siswa
mengkomunikasikan hasil temuan-temuannya, membuktikan, memperagakan tentang
materi yang dibahas baik dalam kelompok maupun di depan kelas.
e.
Fase Penguatan dan Refleksi
Pada
fase ini guru memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari
melalui penjelasan-penjelasan ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan
sehari-hari.Selanjutnya siswa pun diberi kesempatan
untukmere- fleksikan
dan mengevaluasi hasil pembelajarannya.
7. Tipe Make A Match
(Membuat Pasangan)
Metode pembelajaran make a match atau
mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah
siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam
suasana yang menyenangkan.Langkah-langkah penerapan metode make a match
sebagai berikut:
a.
Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik
yang cocok untuk sesi pemilihan, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
b.
Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
c.
Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
d.
Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya.
e.
Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi
poin.
f.
Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak
dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang
telah disepakati bersama.
g.
Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu
yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
h.
Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang
kartu yang cocok.
i.
Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi
pelajaran.
8. Tipe Two Stay Two
Stray (TS-TS)
Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TS-TS) dikembangkan oleh Spencer Kagan. Metode ini bisa
digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia. Metode
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan sistem pembelajaran kelompok
dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling
membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berprestasi. Metode ini
juga melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik.Langkah-langkah pelaksanaan
model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay
Two Stray seperti
yang diungkapkan, antara lain:
a.
Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya
terdiri dari empat siswa.Kelompok yang dibentuk pun merupakan kelompok
heterogen seperti pada pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk saling
membelajarkan dan saling mendukung.
b.
Guru memberikan subpokok bahasan pada tiap-tiap kelompok untuk dibahas
bersama-sama dengan anggota kelompoknya masing-masing.
c.
Siswa bekerjasama dalam kelompok beranggotakan empat orang.Hal ini
bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara
aktif dalam proses berpikir.
d.
Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan
kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain.
e.
Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja
dan informasi mereka ke tamu mereka.
f.
Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan
temuan mereka dari kelompok lain.
g.
Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
h.
Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka.
D.
Kelebihan dan Kekurangan dari Pembelajaran Kooperatif
1. KelebihanPembelajaran
Kooperatif.
a. Melalui model pembelajaran kooperatif, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru,
tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan
informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
b. Model pembelajaran kooperatif dapat
mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara
verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
c. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa untuk menhargai orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya
serta menerima segala perbedaan.
d. Model pembelajaran kooperatif dapat
memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e. Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan
prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga
diri, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain, mengembangkan
keterampilan, dan
sikap positif terhadap sekolah.
f. Model pembelajaran kooperatif dapat
mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima
umpan balik. Siswa dapat
memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat
adalah tanggung jawab kelompoknya.
g. Model pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan kemampuan siswa mengelola
informasi dan kemampuan belajar abs- trak menjadi nyata.
h. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat
meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang.
2. Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif.
a. Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara
matang, di- samping
itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.
b. Agar proses pembelajaran berjalan dengan
lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
c. Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung,
ada kecenderungan topik permasalahan yang dibahas meluas sehingga banyak yang
tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
d. Saat diskusi terkadang didominasi seseorang,
hal ini meng-akibatkan
siswa yang lain menjadi pasif.
e.
Bisa menjadi tempat
mengobrol atau gosip.Hal ini terjadi jika
anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar, seperti datang
terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu saja sehingga
tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.
BAB III
PENUTUPAN
A.
Kesimpulan
1. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk
kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar
pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika
salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
2. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif adalah sebagai berikut:
Saling
Ketergantungan Positif, Tanggung Jawab Perseorangan, Interaksi Tatap Muka, Komunikasi antarAnggota Kelompok dan Evaluasi Proses Kelompok
3. Berikut ini adalah beberapa tipe dari model pembelajaran kooperatif,
yaitu: Tipe STAD (Student Team Achievement Division), Tipe
Think-Pair-Share, Tipe Jigsaw,
Tipe NHT (Numbered Heads Together),
Tipe GI (Group Investigation), Tipe CIRC (Cooperatif
Integrated Reading And Composition), Tipe Make A Match (Membuat Pasangan)
dan Tipe Two Stay Two Stray (TS-TS).
3. Salah satu kelebihan dan kekurangan Pembelajaran Kooperatif adalah sebagai berikut:
Kelebihannya adalah melalui model pembelajaran kooperatif, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat
menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari
berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain. Dan kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif adalah Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara
matang, di- samping
itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.
B.
Kritik dan Saran
Disarankan untuk pembaca agar
dapat menerapkan pembelajaran kooperatif dengan baik. Dalam pembuatan makalah
ini masih banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun materi, maka dari itu
kami sebagai penulis memohon kritik dan saran yang membangun agar dalam
penulisan makalah selajutnya dapat lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar